SURABAYA, MEC.or.id – Mandiri Entrepreneur Center (MEC) Surabaya bersama jajaran manajemen Laznas Yatim Mandiri menggelar kunjungan silaturahim. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka study banding MEC ke Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya pada Rabu (28/10/2026).
Melalui kunjungan ini, MEC berkesempatan memperkenalkan program pendidikan dan pembinaan peserta didik. Selain itu, tim MEC juga mempelajari pengelolaan lembaga pendidikan pesantren. Lembaga tersebut sukses mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, teknologi modern, dan kewirausahaan digital.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan. Pihak yang hadir meliputi Direktur Program Yatim Mandiri, Direktur Fundraising Online, Manager Korkom, Manager BrandCom, serta Waka Kesiswaan MEC. Rombongan diterima secara langsung oleh Founder Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, KH. Helmi M. Noor. Beliau didampingi oleh Ketua Yayasan, penanggung jawab program, bendahara, serta jajaran staf pengajar Al-Yasmin.
Bagi MEC, pelaksanaan agenda ini menjadi bagian penting dari upaya memperluas wawasan pengelolaan lembaga. Selain itu, kegiatan ini bertujuan membangun hubungan baik antarlembaga dan mencari referensi pengembangan program yang relevan. Oleh karena itu, melalui pertukaran pengalaman tersebut, MEC mengenalkan pendekatan pendidikan yang selama ini diterapkan sekaligus mempelajari inovasi pendidikan dari Al-Yasmin.
MEC Perkenalkan Model Pendidikan dan Pembinaan Peserta Didik
Dalam sesi pertemuan tersebut, Waka Kesiswaan MEC memaparkan profil lembaga secara rinci. Beliau juga berbagi pengalaman mengenai penyelenggaraan program pendidikan di Mandiri Entrepreneur Center. Pemaparan tersebut mencakup konsep pendidikan dan pelatihan selama satu tahun. Program ini dirancang untuk menyiapkan peserta didik agar memiliki keterampilan vokasi, karakter islami, jiwa kewirausahaan, serta kemandirian setelah lulus.
“Di MEC tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan sesuai program studi. Pembinaan karakter melalui kehidupan asrama, pembiasaan ibadah, kedisiplinan, kemandirian, serta pengembangan kemampuan berwirausaha menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses pendidikan peserta didik,” jelas ust Hamim, Waka Kesiswaan MEC.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk membentuk lulusan yang berdaya saing tinggi. Lulusan tidak hanya dibekali kompetensi teknis, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja, kemampuan merintis usaha, dan tanggung jawab pribadi. Melalui kesempatan berbagi ini, MEC memperjelas bagaimana pendidikan vokasi dan pembinaan karakter dijalankan secara bersamaan dalam lingkungan berasrama.
Di samping itu, sesi ini menjadi ruang diskusi yang interaktif mengenai tantangan pengelolaan pendidikan dan pemberdayaan generasi muda. Meskipun kedua lembaga memiliki karakteristik program yang berbeda, namun keduanya mempunyai perhatian yang sejalan. Kedua pihak berfokus menyiapkan generasi muda yang memiliki bekal keagamaan, keterampilan praktis, dan kemandirian.
Belajar Pengelolaan Pesantren Berbasis Teknologi Digital
Selain memperkenalkan program unggulan MEC, rombongan juga menyimak pemaparan mendalam mengenai konsep pendidikan Al-Yasmin. Lembaga yang berlokasi di Kebonsari, Kecamatan Jambangan, Surabaya, ini berhasil mengembangkan model pesantren modern. Mereka memadukan pendidikan keislaman, teknologi, inovasi, serta kewirausahaan digital (digital entrepreneurship).
Secara khusus, Al-Yasmin mengembangkan berbagai bidang keterampilan digital masa kini. Keterampilan tersebut antara lain content creation, desain grafis, digital marketing, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk membekali para santri agar mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus membangun kemandirian finansial.
Tidak hanya berfokus pada pembinaan santri, Al-Yasmin juga memperhatikan peningkatan kapasitas pengajar dan masyarakat. Mereka merancang program penguasaan teknologi bagi ustaz dan ustazah pengajar Al-Qur’an. Dengan demikian, model pengelolaan ini memberikan gambaran yang jelas mengenai ekosistem pesantren yang terintegrasi dengan keterampilan digital dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi pihak MEC sendiri, agenda study banding MEC ke Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya memberikan pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman ini menjadi referensi penting untuk memperkaya perspektif pengembangan pendidikan vokasi dan kewirausahaan. Perkembangan teknologi digital seperti AI dan industri kreatif merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus direspon agar kompetensi lulusan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan pasar usaha.
Membuka Peluang Sinergi Program Pendidikan dan Pemberdayaan
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Diskusi diisi dengan pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan lembaga, pengembangan sumber daya manusia, serta penyelenggaraan program pendidikan. Oleh sebab itu, kedua belah pihak saling memberikan apresiasi tinggi atas kiprah dan kontribusi yang telah dijalankan dalam bidang pemberdayaan masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, Yatim Mandiri dan Al-Yasmin juga membicarakan peluang kerja sama strategis di masa depan. Bagi MEC, membangun jejaring dengan lembaga yang memiliki pendekatan berbeda dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan. Hal ini juga memicu peningkatan kapasitas pengelola serta membuka potensi kolaborasi program yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Setiap lembaga memiliki pengalaman dan keunggulan yang dapat saling dipelajari. Kami berharap pertemuan ini tidak berhenti pada silaturahim, tetapi juga dapat membuka peluang kolaborasi yang memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan dan pemberdayaan generasi muda,” demikian pesan KH. Helmi M. Noor.
Secara garis besar, agenda pertemuan ini menghasilkan dua poin utama. Poin pertama adalah saling memberikan apresiasi atas kiprah masing-masing lembaga. Poin kedua adalah penjajakan peluang kolaborasi program strategis di masa depan. Meskipun belum merumuskan kesepakatan formal, komunikasi yang terbangun menjadi langkah awal yang solid untuk mengidentifikasi potensi sinergi.
Bagi pihak pengelola MEC, kegiatan ini merupakan upaya berkelanjutan untuk memperluas perspektif pendidikan melalui interaksi langsung. Hasil dari study banding MEC ke Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya ini akan dijadikan bahan evaluasi dan pengembangan program pembinaan. Hal ini penting agar lembaga siap menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan, perkembangan teknologi, dan tantangan kemandirian lulusan.
Akhirnya, melalui silaturahim dan pertukaran pengalaman antarlembaga, MEC berkomitmen untuk terus mengembangkan pendidikan yang adaptif. MEC tetap memperkuat karakter dan nilai-nilai keislaman peserta didik. Dengan demikian, proses pendidikan tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesiapan siswa untuk bekerja, berwirausaha, dan hidup mandiri di tengah masyarakat.