MEC Surabaya Libatkan 7 Guru Baru di Program BTQ Term Kedua

Suasana kelompok belajar Program BTQ MEC Surabaya di asrama saat guru baru membimbing peserta didik membaca Al-Qur'an.
Suasana kegiatan belajar mengajar dalam Program BTQ MEC Surabaya di asrama yang dibimbing langsung oleh guru baru lulusan Diklat Tilawati.

SURABAYA, MEC.or.id — Mandiri Entrepreneur Center (LK MEC) Surabaya mulai melibatkan tujuh guru baru dalam pelaksanaan Program BTQ MEC Surabaya Term Kedua.

Kegiatan belajar mengajar tersebut mulai dilaksanakan pada Senin (2/11/2026), pukul 07.00–07.45 WIB, bertempat di Asrama MEC Surabaya.

Ketujuh guru baru tersebut merupakan peserta didik MEC yang telah dinyatakan lulus Diklat Standarisasi Guru Al-Qur’an Metode Tilawati.

Setelah menyelesaikan proses pelatihan dan standardisasi, mereka mulai mendapatkan tanggung jawab untuk mengajar peserta didik dalam Program BTQ yang berlangsung pada term kedua tahun ajaran ini.

Pelibatan guru baru menjadi bagian dari upaya MEC menjaga keberlanjutan kaderisasi pengajar Al-Qur’an. Selain itu, langkah ini juga bertujuan memperkuat pelaksanaan program pembinaan keagamaan di lingkungan asrama.

Tujuh Guru Baru Mulai Mendapatkan Tanggung Jawab Mengajar

Dalam pelaksanaan Program BTQ MEC Surabaya kali ini, masing-masing guru baru mendapatkan tanggung jawab membimbing satu peserta didik.

Secara khusus, Ananda Alya Nadifa mendapatkan amanah untuk membimbing tiga peserta didik. Penugasan tersebut mempertimbangkan capaian kompetensinya selama mengikuti Diklat Standarisasi Guru Al-Qur’an Metode Tilawati.

Alya Nadifa tercatat sebagai lulusan terbaik dalam diklat tersebut dengan perolehan nilai sempurna. Capaian ini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memberikan tanggung jawab mengajar kepada yang bersangkutan.

Melalui pembagian tugas tersebut, setiap guru baru memiliki kesempatan untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh:

  • Penguasaan materi secara mendalam.

  • Penerapan teknik membaca Al-Qur’an dengan metode Tilawati.

  • Pengelolaan proses belajar peserta didik secara langsung.

Kegiatan mengajar ini sekaligus menjadi tahap lanjutan setelah para calon guru menyelesaikan pelatihan standardisasi.

Sesi bimbingan intensif satu-lawan-satu dalam Program BTQ MEC Surabaya oleh guru baru kepada peserta didik.
Sesi bimbingan intensif satu per satu antara guru baru dan peserta didik dalam pelaksanaan Program BTQ MEC Surabaya.

Dengan demikian, proses kaderisasi tidak berhenti pada kelulusan diklat semata. Proses ini berlanjut pada praktik mengajar yang terarah dan bertanggung jawab.

Percepat Capaian BTQ dan Kembangkan Kompetensi Guru

Pelibatan tujuh guru baru diharapkan dapat mendukung percepatan pencapaian target kemampuan membaca Al-Qur’an peserta didik MEC.

Dengan adanya tambahan tenaga pengajar, proses pendampingan dapat dilakukan dalam kelompok belajar yang lebih kecil. Hal ini memberikan ruang lebih luas bagi guru untuk memperhatikan perkembangan masing-masing peserta.

Pendekatan tersebut juga memungkinkan guru mengidentifikasi kemampuan dan kesulitan peserta didik secara lebih spesifik.

Hasil pendampingan nantinya dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan:

  1. Materi penguatan yang dibutuhkan.

  2. Perbaikan bacaan secara mendalam.

  3. Tahapan pembelajaran berikutnya yang sesuai kemampuan peserta.

Selain berdampak pada peserta didik, program ini juga menjadi sarana aktualisasi kompetensi bagi guru baru.

Mereka tidak hanya dituntut memahami teori dan standar pengajaran Tilawati. Lebih dari itu, mereka perlu membangun keterampilan komunikasi, kesabaran, kedisiplinan, serta kemampuan mengelola kelas.

Dalam proses tersebut, guru baru mulai belajar mengambil peran sebagai pendidik sekaligus pembimbing. Pengalaman mengajar secara langsung diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan kepemimpinan mereka dalam mengelola kegiatan pembelajaran.

Kaderisasi Guru Menjadi Bagian dari Pembinaan Kemandirian

Bagi MEC, pengembangan kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bagian penting dalam pembinaan karakter dan keagamaan peserta didik.

Karena itu, keberadaan Program BTQ MEC Surabaya tidak hanya diarahkan pada pencapaian kemampuan membaca Al-Qur’an semata. Program ini juga menjadi ruang pembentukan tanggung jawab dan kepedulian antarpeserta didik.

Sekelompok peserta didik laki-laki duduk melingkar mengikuti kegiatan Program BTQ MEC Surabaya di area asrama.
Aktivitas kelompok belajar peserta didik laki-laki dalam pelaksanaan Program BTQ MEC Surabaya.

Kaderisasi guru Al-Qur’an melalui Diklat Standarisasi Tilawati hingga praktik mengajar menjadi salah satu pendekatan yang terus dikembangkan MEC. Peserta didik yang telah memenuhi standar kompetensi diberikan kesempatan untuk mengamalkan ilmunya dengan membimbing peserta lain.

Pola ini sejalan dengan upaya MEC membangun kemandirian peserta didik melalui tiga aspek utama:

  • Kemandirian Belajar

  • Kemandirian Ibadah

  • Kemandirian Finansial

Dalam aspek ibadah, kemampuan membaca Al-Qur’an dan kemauan untuk mengajarkannya menjadi bagian dari penguatan karakter islami. Karakter inilah yang diharapkan tumbuh selama peserta mengikuti pendidikan di MEC.

Melalui pelaksanaan Program BTQ Term Kedua ini, MEC berharap proses pembinaan Al-Qur’an dapat berjalan lebih terarah, capaian kemampuan peserta didik meningkat, serta semakin banyak kader pengajar yang tumbuh dari lingkungan lembaga.

Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh manfaat dari bimbingan yang diberikan. Mereka juga memiliki kesempatan emas untuk mengembangkan kompetensi, mengamalkan ilmu, dan mengambil tanggung jawab dalam lingkungan pendidikan.

Bagikan:

Tags

Related Post