Surabaya, MEC.or.id – Setiap orang memiliki jalan yang berbeda untuk mencapai masa depan yang diimpikan. Ada yang langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ada pula yang harus melewati proses panjang sebelum menemukan arah. Perjalanan tersebut dialami oleh Sneha Naafi Amrulloh, alumni Mandiri Entrepreneur Center (MEC) Angkatan 19 asal Mojokerto.
Sebelum masuk MEC, Sneha, nama akrabnya, memiliki satu keinginan yang kuat, yaitu kuliah di PTN terkemuka. Berbagai jalur dan seleksi perguruan tinggi telah ia coba, tetapi belum membuahkan hasil. Hingga akhirnya, atas dorongan sang ibu, Sneha memutuskan untuk menjalani pendidikan di MEC.
Keputusan tersebut awalnya tidak mudah. Sneha sempat merasa malu karena belum bisa melanjutkan kuliah, sementara teman-temannya telah diterima di berbagai perguruan tinggi. Perasaan tersebut menjadi tantangan terbesar yang harus ia hadapi.
“Tantangan terbesar saya waktu itu adalah ego saya sendiri. Saya merasa malu karena tidak kuliah, sedangkan teman-teman saya kuliah di universitas-universitas besar,” ungkap Sneha.
Namun, seiring berjalannya waktu, pandangan Sneha terhadap MEC mulai berubah. Ia mulai melihat bahwa pendidikan tidak hanya tentang perguruan tinggi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan. Ia melihat MEC memiliki jaringan yang luas sehingga dapat menjadi ruang untuk membangun relasi dan mengembangkan kemampuan.
Belajar Berani dari Entrepreneurship
Salah satu pengalaman yang paling menguji mental Sneha selama berada di MEC adalah program entrepreneurship. Ia harus berjualan dengan berjalan kaki dan berkeliling Surabaya untuk menawarkan produk kepada orang-orang yang ditemuinya.
Bagi Sneha, pengalaman tersebut tidak mudah. Ia harus mengalahkan rasa malu dan berani berbicara dengan orang-orang yang belum pernah dikenalnya.
Namun, Sneha kemudian mengubah cara pandangnya. Ia berpikir bahwa orang-orang yang ditemuinya tidak mengenal dirinya. Karena itu, tidak ada alasan untuk merasa malu. Dari pengalaman tersebut, ia justru belajar bahwa aktivitas berjualan membutuhkan keberanian dan mental yang kuat.
“Ketika entrepreneurship, banyak orang yang berjualan untuk hidup mereka, bukan hanya untuk melaksanakan tugas atau mendapatkan uang jajan,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi Sneha untuk tumbuh lebih mandiri. Ia belajar bahwa setiap proses memiliki makna dan selalu ada pelajaran yang dapat diambil.
Dari MEC, Belajar Mengambil Keputusan
Selain entrepreneurship, Sneha juga membawa sejumlah kebiasaan dan pola pikir yang diperolehnya selama berada di MEC. Salah satunya adalah memahami bahwa setiap orang memiliki pendapat dan cara pandang masing-masing.
Ia juga belajar untuk lebih berani mengambil keputusan dengan mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi. Prinsip tersebut terus ia terapkan setelah lulus dari MEC.
Kini, Sneha melanjutkan pendidikan melalui jalur mandiri di Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik, Program Studi Teknik Logistik. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, ia juga bekerja sampingan di sebuah studio foto.
Menjalani kuliah sekaligus bekerja tentu membutuhkan energi dan tanggung jawab. Namun, dukungan dari lingkungan kerja membuat Sneha dapat menyesuaikan jadwal pekerjaannya dengan aktivitas perkuliahan.
Bagi Sneha, kemandirian bukan berarti harus mampu menghadapi semuanya seorang diri. Kemandirian baginya adalah kemampuan untuk terus berusaha, berani mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihan, dan tetap melangkah ketika hasil yang didapat belum sesuai harapan.
Kini, Sneha mengaku lebih ikhlas dalam menghadapi berbagai keadaan. Ia berusaha melakukan yang terbaik sesuai kemampuannya, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Pesan untuk Peserta Didik MEC
Pengalaman di MEC seperti entrepreneurship, project akhir, sertifikasi, menjalani aktivitas dengan jadwal yang teratur, hingga belajar berbaur dengan banyak orang menjadi kenangan yang masih melekat dalam dirinya.
Dari seluruh proses tersebut, Sneha memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, setiap keadaan dapat menjadi bagian dari proses untuk bertumbuh.
Kepada adik-adik yang sedang menempuh pendidikan di MEC, Sneha berpesan agar tidak mudah berkecil hati dan tidak menyerah terhadap keadaan.
“Taruh impian yang besar, tetapi tetap realistis dan optimis bahwa impian itu akan terjadi. Jangan pernah putus pendidikan, jangan pernah menyerah dengan suatu keadaan, dan keluarlah dari zona nyaman atau aman kamu,” pesannya.
Perjalanan Sneha menunjukkan bahwa kemandirian tidak terbentuk dalam satu malam. Ia tumbuh dari keberanian menghadapi rasa malu, kemauan keluar dari zona nyaman, serta kesediaan untuk terus belajar dari setiap pengalaman. Dari MEC, Sneha menemukan bekal untuk melangkah lebih berani, hingga kini mampu menjalani kuliah sekaligus bekerja dalam upayanya menata masa depan. Good Luck Sneha!!!