Surabaya, MEC.or.id — Di balik dinamika kota metropolitan Surabaya, tersimpan sebuah narasi perjalanan hidup yang sarat akan liku perjuangan dan ketekunan. Kisah sukses alumni MEC ini datang dari Muhaemin, seorang pemuda asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang berhasil membalikkan keadaan hidupnya lewat pintu pendidikan vokasi dan kewirausahaan.
Hari ini, Muhaemin memegang amanah besar sebagai Kepala Asrama di salah satu program pembinaan dan pendidikan Yatim Mandiri Cabang Madiun. Namun, siapa sangka, di balik posisi strategis dan kemandirian yang ia miliki saat ini, tersimpan masa lalu penuh keterbatasan yang hampir merenggut masa depannya.
Titik Nol Tanpa Sosok Ayah
Muhaemin adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Takdir garis hidupnya terukir keras tatkala sang ayah berpulang saat usianya baru menginjak dua tahun. Praktis, ia tumbuh tanpa pernah mengenali wajah maupun dekapan hangat seorang ayah.
Selama 18 tahun hingga masa kelulusan Sekolah Menengah Kejuruan pada tahun 2015, beban ekonomi keluarga sepenuhnya berada di pundak sang ibu tercinta. Sosok wanita tangguh itu setiap hari bangun sebelum subuh demi menyiapkan nasi bungkus untuk dijajakan dari pagi hingga menjelang siang. Dari rupiah demi rupiah hasil jualan tersebut, sang ibu berjuang membesarkan anak-anaknya.
Memasuki tahun kelulusan SMK, masa depan Muhaemin tampak buram. Pilihan untuk melanjutkan kuliah terkendala tembok besar ekonomi keluarga yang hanya cukup untuk kebutuhan harian. Sementara untuk langsung terjun ke dunia kerja, ia merasa belum memiliki bekal keterampilan apa pun yang dapat diandalkan.
Ia sempat mengambil jalan untuk memperdalam ilmu agama selama dua tahun di Pondok Pesantren Al-Huda, Malang, bersama sang kakak kelima, Zainal Abidin. Di sanalah mental dasarnya ditempa sebelum akhirnya takdir mempertemukannya dengan Mandiri Entrepreneur Center Surabaya di bawah naungan Yatim Mandiri.
Mengikis Ragu di Tengah Kota Pahlawan
Masuk ke lingkungan baru di kota besar bukan perkara mudah bagi Muhaemin. Terlahir sebagai pribadi yang introvert dan hampir tidak pernah meninggalkan kampung halaman, bayangan kecemasan sempat merajai benaknya.
“Awalnya saya ragu, bahkan takut. Saya yang hampir tidak pernah jauh dari keluarga harus membayangkan hidup di Surabaya dengan orang-orang baru,” kenang Muhaemin.
Namun, dorongan kuat dari sang kakak yang juga bagian dari kisah sukses alumni MEC Angkatan Ketujuh melunturkan keraguan itu. Dengan mengucap bismillah, ia melangkah mantap mendaftarkan diri.
Kekhawatiran itu perlahan sirna. Suasana lembaga yang hangat bagaikan keluarga membuat proses adaptasi berjalan lebih mulus. Kendati demikian, jalan terjal akademik sempat menghadang. Mengambil Program Studi Teknik Komputer dan Jaringan, Muhaemin sempat kewalahan pada semester awal hingga nilainya berada di bawah KKM dan terancam dikeluarkan.
Berkat sokongan moral dari teman-teman seperjuangan serta kesabaran para mentor dan asatidzah yang membimbing tanpa lelah, ia berhasil melewati masa kritis tersebut dengan gemilang.
Transformasi Total dan Mental Kemandirian
Di lingkungan pendidikan ini, Muhaemin tidak hanya dijejali ilmu komputer. Kurikulum yang memadukan pendidikan diniyah, tahfidz, tahsin, serta pembinaan kewirausahaan membentuk karakternya secara menyeluruh dan komprehensif.
Bagi Muhaemin, pelatihan entrepreneur di lembaga ini bukan sekadar teori mencari uang, melainkan pembentukan mental baja. “Kami diajarkan keberanian untuk mencoba, keikhlasan untuk gagal, dan kemampuan mencari solusi saat menghadapi persoalan hidup,” ujarnya.
Transformasi itu mengubah drastis sosok Muhaemin yang dulunya pesimis dan tertutup menjadi pribadi optimis dengan jejaring sosial yang luas. Ketakutan menghadapi dunia kerja yang sempat menghantuinya pun musnah sepenuhnya.
Terbukti, sesaat setelah merampungkan pendidikan dan melalui acara akhirussanah, ia memberanikan diri melamar pekerjaan dan langsung diterima di PT MYM Surabaya—sebuah pencapaian yang dulunya hanya ada di angan-angan.
Mengabdi untuk Negeri dan Pesan Generasi
Kini, siklus perjuangan itu berputar kembali. Setelah mandiri secara finansial dan mampu membantu perekonomian keluarga di Indramayu, Muhaemin kembali mengabdikan diri ke ekosistem yang telah membesarkannya. Lewat amanah sebagai Kepala Asrama di Madiun, ia mendedikasikan waktu dan tenaga untuk membimbing generasi penerus agar bangkit dari keterbatasan serupa.
Ia menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Yatim Mandiri, para pengurus, dosen, mentor, teman-teman Angkatan 12, serta para donatur yang telah ikhlas memberikan dukungan. Semoga setiap tetes kebaikan bernilai amal jariyah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Terakhir, untuk adik-adik yang saat ini masih berjuang, Muhaemin berpesan agar tetap semangat, memberikan usaha maksimal, serta memanfaatkan waktu dan mentor sebaik-baiknya. Kelak setelah sukses, jangan pernah lupakan almamater karena lembaga ini adalah rumah bersama.