Kisah Nafia Alumni MEC yang Sukses Jadi Dosen UNUSIDA

Potret Nafia Ilhama Qurratu’aini alumni MEC yang sukses jadi dosen di UNUSIDA
Potret Nafia Ilhama Qurratu’aini, S.E., M.M., sosok inspiratif alumni MEC yang kini berkarier sebagai dosen

Surabaya, MEC.or.id – Tidak semua orang memasuki dunia pendidikan dengan mimpi yang sudah tersusun rapi. Ada yang datang hanya dengan satu keinginan sederhana: ingin punya bekal untuk bekerja, mandiri, dan menemukan arah hidup.

Begitulah kisah Nafia Ilhama Qurratu’aini, S.E., M.M., alumni MEC Angkatan 7 asal Kediri. Berawal dari seorang anak muda yang masih bergulat dengan rasa tidak percaya diri dan belum tahu akan melangkah ke mana, perjalanan di MEC perlahan membawanya menemukan potensi diri. Hingga hari ini, langkah itu telah membawanya jauh — dari bangku pendidikan menuju dunia akademik, dan mengantarkannya menjadi bukti nyata kisah alumni MEC sukses jadi dosen.

Mengenal MEC sebagai Ruang untuk Berkembang

Keputusan Nafia untuk masuk MEC berangkat dari keinginannya mendapatkan pengalaman yang lebih luas. Baginya, MEC bukan hanya tempat untuk belajar keterampilan, tetapi juga lingkungan untuk membentuk karakter dan kemandirian.

Saat itu, ia berharap dapat menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah pendidikan. Ia ingin memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja sekaligus menjadi pribadi yang dapat membanggakan orang tua.

Selama mengikuti pendidikan di MEC, Nafia mendapatkan berbagai pengalaman yang mendorongnya keluar dari zona nyaman. Salah satu yang paling berkesan adalah kegiatan entrepreneur.

Dalam kegiatan tersebut, peserta didik ditantang untuk mendapatkan penghasilan dengan kemampuan yang dimiliki. Mereka dapat menawarkan produk, jasa, atau mencari peluang lain sesuai keterampilan masing-masing.

Bagi Nafia, pengalaman tersebut pada awalnya tidak mudah. Rasa malu dan ragu sempat muncul ketika harus menawarkan sesuatu kepada orang lain. Namun, proses tersebut justru menjadi latihan untuk membangun keberanian.

“Awalnya saya merasa malu dan ragu ketika harus menawarkan produk atau jasa kepada orang lain. Tapi dari situ saya belajar bahwa kalau ingin berkembang, kita harus berani mencoba hal-hal yang sebelumnya terasa sulit,” jelas Nafia.

Belajar Mandiri dan Berani Menciptakan Kesempatan

Selama berada di MEC, Nafia juga mendapatkan pola pikir tentang pentingnya kemandirian. Ia belajar bahwa seseorang tidak harus selalu menunggu kesempatan datang, melainkan bisa diciptakan melalui kemampuan yang dimiliki.

Momen wisuda alumni MEC sukses jadi dosen usai menuntaskan kuliah S2
Prosesi kelulusan yang menjadi bukti perjuangan alumni MEC membiayai pendidikan tinggi secara mandiri.

Selain kemandirian, ia banyak belajar tentang disiplin, tanggung jawab, komunikasi, kerja sama, dan keberanian untuk mencoba. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari cara pandangnya setelah lulus.

Menurut Nafia, kemampuan tidak harus langsung sempurna. Kemampuan dapat dibangun melalui proses belajar, kesalahan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Dari Alumni MEC hingga Melanjutkan Pendidikan S2

Setelah menyelesaikan pendidikan di MEC, langkah Nafia tidak berhenti. Babak baru dalam perjalanan hidupnya dimulai ketika ia memberanikan diri memasuki dunia kerja.

Nafia mengikuti proses rekrutmen di Sharia Banking Institute, sebuah konsultan yang bergerak di bidang perbankan syariah, dan berhasil diterima bekerja. Bagi sebagian orang, pekerjaan mungkin hanya tempat untuk mendapatkan penghasilan. Namun bagi Nafia, pekerjaan menjadi ruang belajar berikutnya — ruang yang mempertemukannya dengan tanggung jawab dan tantangan nyata.

Di dunia kerja, ia mulai memahami bahwa banyak hal tidak cukup hanya dipelajari melalui teori. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, waktu yang harus dihargai, target yang harus dicapai, serta kepercayaan orang lain yang harus dijaga.

Dari penghasilan yang diperoleh, Nafia memiliki kesempatan untuk membiayai pendidikannya secara mandiri. Ia menjalani kuliah sambil bekerja, terus belajar di tengah kesibukan, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan jenjang S2.

Pelantikan alumni MEC sukses jadi dosen dan pejabat struktural di UNUSIDA
Nafia menghadiri pelantikan pejabat struktural Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Perjalanan itu tentu tidak mudah. Bekerja sekaligus belajar membutuhkan waktu, tenaga, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus bertahan. Hingga akhirnya, rangkaian langkah tersebut membawanya ke dunia akademik sebagai dosen di UNUSIDA sekaligus Kepala Bagian Kerjasama Nasional di perguruan tinggi yang sama.

Jika melihat perjalanan Nafia, semuanya seperti tersusun dari kesempatan-kesempatan kecil. Namun, setiap kesempatan membutuhkan keberanian untuk diambil dan ketekunan untuk dijalani hingga membuktikan sosok alumni MEC sukses jadi dosen.

Kenangan Berharga Selama Pendidikan di MEC

Bagi Nafia, pengalaman di MEC tidak hanya berkaitan dengan keterampilan. Kebersamaan dengan teman-teman dan para pembimbing menjadi bagian yang masih diingat hingga sekarang.

Berbagai kegiatan di kelas, asrama, maupun entrepreneur memberikan pengalaman yang membentuk dirinya. Momen-momen sederhana yang dahulu terasa biasa justru menjadi kenangan berharga ketika kembali diingat.

Dari perjalanan tersebut, Nafia merasa menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, dan menghargai proses. Ia bersyukur pernah merasakan perjalanan dari bawah, bekerja, membiayai pendidikan secara mandiri, hingga menyelesaikan pendidikan S2.

Kebersamaan alumni MEC sukses jadi dosen bersama rekan-rekan saat masa pendidikan
Kenangan kebersamaan Nafia bersama rekan-rekan selama menempuh pendidikan karakter di MEC.

Pesan Nafia untuk Peserta Didik MEC

Kepada peserta didik yang sedang menjalani pendidikan di MEC, Nafia berpesan agar tidak terburu-buru membandingkan perjalanan diri dengan orang lain. Menurutnya, merasa bingung, lelah, atau belum mengetahui masa depan adalah hal yang wajar.

“Manfaatkan waktu selama di MEC sebaik mungkin. Bukan hanya untuk mendapatkan keterampilan, tetapi juga untuk membangun karakter, relasi, keberanian, dan kepercayaan diri,” pesannya.

Nafia juga mengingatkan bahwa masa depan tidak harus langsung terlihat jelas hari ini. Perjalanannya sendiri menjadi contoh bahwa arah masa depan dapat berkembang seiring proses yang dijalani.

Kisah Nafia Ilhama Qurratu’aini mengajarkan bahwa seseorang tidak harus memiliki semua jawaban tentang masa depan untuk berani memulai. Dari langkah sederhana untuk belajar dan mencari pengalaman, perlahan terbuka jalan baru hingga berdiri sebagai tenaga pendidik. Semoga perjuangan sosok alumni MEC sukses jadi dosen ini bisa terus menjadi inspirasi bagi generasi muda yang sedang berjuang menemukan jalannya.

Bagikan:

Tags

Related Post