Nailul Muna, Alumni MEC yang Meniti Karier di Bidang Marketing

Seorang perempuan berhijab duduk di ayunan taman sambil memegang rangkaian bunga, dengan latar pepohonan hijau.
Potret Nailul Muna dalam suasana tenang dan penuh harapan di tengah alam terbuka.

Surabaya, MEC.or.id – Nailul Muna (26), perempuan asal Demak kelahiran 6 Juni 1999, kini menjalani karier profesional di PT Kailo Sumber Kasih, Demak, pada bagian marketing. Perjalanan tersebut tidak ia tempuh dengan mudah. Selepas lulus sekolah, Nailul Muna sempat menghadapi situasi yang membuatnya ragu melanjutkan pendidikan dan menata masa depan, terutama karena keterbatasan biaya.

Di tengah kebingungan itu, sebuah pertemuan sederhana menjadi awal perubahan. Nailul Muna berkenalan dengan seorang alumni Mandiri Entrepreneur Center (MEC) yang juga merupakan guru lesnya. Dari situlah ia mengenal program pendidikan yang memadukan keterampilan kerja, pembinaan karakter, dan sistem asrama.

Bagi Nailul Muna, informasi itu seperti jawaban atas kegelisahan yang selama ini ia pendam. Ia kemudian mengambil keputusan yang tidak kecil: meninggalkan Demak untuk mengikuti pendidikan di MEC.

Ketika Mimpi Tertahan Realitas

Seperti banyak anak muda lainnya, Nailul Muna memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Namun, keinginan itu terbentur kondisi ekonomi keluarga. Ia menyadari bahwa melanjutkan studi membutuhkan biaya yang tidak ringan.

Situasi tersebut membuatnya berada pada fase ragu dan tidak yakin dengan pilihan hidupnya. Ia ingin maju, tetapi merasa langkahnya tertahan oleh keadaan. Pada titik inilah ia mulai mencari jalan lain agar tetap bisa berkembang dan memiliki bekal untuk masa depan.

Pertemuan dengan alumni MEC memberi Nailul Muna perspektif baru: ada program pendidikan yang tidak hanya menekankan teori, tetapi juga keterampilan dan pembinaan karakter, dengan dukungan fasilitas asrama.

Sekelompok peserta didik MEC Semarang berfoto bersama kepala diklat, mentot dan perwakilan hotel saat kegiatan pembelajaran table manner di Hotel Norman Semarang.
Pembelajaran Table Manner di Hotel Norman Semarang: Melatih Etika, Kepercayaan Diri, dan Profesionalisme Peserta Didik.

Titik Balik: Mengenal MEC dari Orang Terdekat

Nailul Muna mengenal MEC melalui guru lesnya yang merupakan alumni program tersebut. Dari cerita yang ia dengar, MEC menawarkan pembelajaran yang mencakup keterampilan wirausaha, pembinaan keislaman, serta pembentukan karakter melalui pola asrama yang terstruktur.

Nailul Muna mengaku tertarik karena program tersebut tidak hanya menjanjikan kemampuan teknis, tetapi juga lingkungan yang mendukung perubahan diri. Ia melihat kesempatan untuk belajar tanpa harus menunggu kondisi ekonomi membaik.

Keputusan untuk berangkat ke MEC menjadi langkah pertama yang menurutnya paling menantang. Bukan hanya soal meninggalkan rumah, tetapi juga meninggalkan rasa takut yang selama ini membatasi dirinya.

Menjalani Proses dan Menghadapi Tantangan

Memasuki lingkungan MEC menjadi pengalaman yang berkesan bagi Nailul Muna. Ia menyebut masa awal pendidikan sebagai fase adaptasi, terutama dalam menghadapi ritme asrama yang disiplin dan menuntut konsistensi.

Dalam proses tersebut,Nailul  Muna menyadari satu hal: tantangan terbesar bukan hanya pelajaran atau aktivitas, melainkan cara ia memandang dirinya sendiri. Ia mengaku sebelumnya sering merasa tidak mampu, mudah ragu, dan cenderung menyerah ketika menghadapi tekanan.

“MEC mengajariku banyak hal. Yang dulunya aku lemah, MEC membuatku kuat,” kata Nailul Muna.

Sekelompok peserta dan pendamping berfoto bersama di area terbuka dengan latar pegunungan saat acara liburan bersama MEC Semarang dan Kacab YM Semarang.
Kebersamaan dan keceriaan dalam Acara Liburan bersama MEC Semarang dan Kacab YM Semarang.

Menurutnya, perubahan itu tidak datang secara instan. Ia menjalani rutinitas pembinaan yang terstruktur, mulai dari aktivitas belajar, pembiasaan ibadah, hingga latihan disiplin harian yang dibangun bersama.

Nailul Muna juga menilai peran pembimbing, mentor, dan lingkungan teman seperjuangan menjadi faktor penting. Ia merasa berada di ruang yang aman untuk bertumbuh, karena didampingi oleh orang-orang yang sabar, terbuka untuk membimbing, dan memberi arahan secara bertahap.

Mengubah Pola Pikir: Dari “Tidak Bisa” Menjadi “Bisa”

Salah satu hal yang paling melekat bagi Nailul Muna selama menempuh pendidikan di MEC adalah perubahan cara berpikir. Ia menilai sistem asrama yang disiplin, serta pembinaan ibadah yang konsisten, berpengaruh pada ketahanan mentalnya.

Jika sebelumnya ia terbiasa mengucapkan “tidak bisa” ketika menghadapi hal baru, maka setelah melalui proses di MEC ia mulai melatih dirinya untuk mencoba terlebih dahulu.

Bagi Nailul, perubahan itu bukan sekadar semangat sesaat, tetapi latihan panjang yang dibangun melalui kebiasaan. Ia belajar bahwa proses, ikhtiar, dan doa harus berjalan bersamaan.

Perubahan mental inilah yang kemudian menjadi fondasi penting ketika ia memasuki dunia kerja, khususnya pada bidang yang menuntut komunikasi dan ketahanan menghadapi target.

Anggota IPNU dan IPPNU berfoto bersama di dalam Mushola Bushro Latif saat kegiatan rutin tingkat kelurahan.
Kebersamaan dalam Rutinan Acara IPNU IPPNU Tingkat Kelurahan di Mushola Bushro Latif.

Bekal Keterampilan untuk Dunia Kerja

Selain pembinaan karakter, Nailul Muna juga mendapatkan bekal keterampilan yang menurutnya relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Ia menyebut beberapa bidang yang paling ia rasakan manfaatnya, terutama dalam pekerjaan marketing yang kini ia jalani.

Beberapa keterampilan yang ia pelajari selama program antara lain:

  • Komunikasi dan marketing, termasuk latihan interaksi, negosiasi, dan cara membangun relasi.
  • Leadership, berupa pembiasaan mengambil tanggung jawab, bekerja dalam tim, serta berani mengambil keputusan.
  • Manajemen waktu, terutama dalam mengatur prioritas antara aktivitas, target, dan kedisiplinan ibadah.

Menurut Nailul Muna, keterampilan tersebut tidak hanya diajarkan dalam bentuk teori. Ia juga dilatih untuk mempraktikkan langsung dalam aktivitas harian, termasuk dalam berbagai penugasan program.

Meniti Karier di PT Kailo Sumber Kasih

Setelah menyelesaikan program, Nailul Muna mulai memasuki dunia kerja. Saat ini, ia bekerja di PT Kailo Sumber Kasih, Demak, pada bagian marketing.

Ia menyebut pekerjaan ini menjadi ruang belajar baru yang menuntut konsistensi, komunikasi, dan kemampuan membangun kepercayaan. Bagi Nailul Muna, bekerja bukan hanya tentang penghasilan, tetapi juga pembuktian bahwa dirinya mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Seluruh karyawan PT Kailo Pusat dan cabang se-Jawa Tengah berfoto bersama saat acara annual meeting di dalam ruangan dengan latar banner kegiatan.
Kebersamaan dalam Annual Meeting PT Kailo Pusat beserta seluruh cabang se-Jawa Tengah.

Ia juga mulai menabung dari penghasilannya sebagai langkah awal untuk mewujudkan rencana jangka panjang: membuka usaha sendiri di masa depan.

Bagi Nailul Muna, capaian terbesar bukan sekadar posisi kerja, melainkan keberanian untuk terus melangkah meski sempat dirundung rasa ragu.

Tanggapan MEC: Proses adalah Kunci

LKP Mandiri Entrepreneur Center menilai kisah Nailul Muna menjadi salah satu contoh bagaimana proses pendidikan yang terstruktur dapat membantu peserta didik menata arah hidup.

“Yang kami dorong bukan hanya keterampilan kerja, tetapi pembentukan karakter. Ketika mental dan disiplin terbentuk, peserta akan lebih siap menghadapi tantangan setelah lulus,” ujar Ust Hamim, Waka Kesiswaan MEC

Menurut MEC, pembinaan berbasis asrama memberi ruang untuk membangun kebiasaan baik secara konsisten, termasuk tanggung jawab personal, manajemen waktu, serta penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan untuk Adik Kelas

Kepada peserta didik yang saat ini masih menempuh pendidikan, Nailul Muna menyampaikan pesan agar tidak mudah menyesali keadaan. Ia menilai setiap orang memiliki jalan masing-masing, dan tugas manusia adalah terus berikhtiar.

“Tidak ada yang perlu disesali, karena tidak ada suatu hal terjadi kecuali atas izin Allah. Lakukan dan berikan yang terbaik. Berdoalah, ada Allah yang akan memudahkan urusan kita,” ujar Nailul Muna.

Ia berharap para peserta didik dapat menjalani proses dengan serius dan tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Menurutnya, perubahan diri membutuhkan waktu, dan setiap proses memiliki hasil yang berbeda.

Tim staff perempuan PT Kailo Sumber Kasih Demak berpose bersama dalam sesi foto company profile dengan seragam biru navy di ruang kantor.
Company Profile PT Kailo Sumber Kasih Demak – Tim yang Solid dan Profesional.

Membuka Akses untuk Bertumbuh

Kisah Nailul Nailul Muna menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi akhir dari sebuah mimpi. Melalui program yang tepat, anak muda tetap dapat memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menyiapkan masa depan yang lebih terarah.

Mandiri Entrepreneur Center terus membuka kesempatan bagi generasi muda yang ingin mengembangkan keterampilan kerja, membangun karakter, serta mempersiapkan diri untuk berkarya setelah lulus.

Informasi program dan pendaftaran MEC dapat diakses melalui laman www.mec.or.id/ppdb

Bagikan:

Tags

Related Post