Setiap orang punya cerita perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang sejak kecil sudah tahu ingin menjadi apa, tapi ada juga yang baru menemukan arah ketika diberi kesempatan untuk belajar dan mencoba. Begitulah perjalanan hidup Mochamad Imam Rismansyah, pemuda asal Bekasi yang kini bekerja di industri pertambangan dan tengah lulus pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah Berau, jurusan Manajemen.
Imam, nama panggilannya, lahir di Bekasi pada 11 Oktober 1996. Ia merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kehilangan ayah sejak kecil membuat keluarganya mengalami masa-masa berat, namun justru dari situlah ia banyak belajar tentang kekuatan, ketulusan, dan arti tanggung jawab. Sang ibu menjadi sosok paling berpengaruh dalam hidupnya – seorang ibu rumah tangga yang sederhana, tetapi penuh kasih, selalu mendukung anak-anaknya untuk terus berjuang mengejar mimpi.
Imam tumbuh dalam kondisi keluarga sederhana, namun ia tidak pernah menganggap itu sebagai batasan. Justru dari kesederhanaan itu muncul pelajaran berharga: kerja keras, kemandirian, dan rasa syukur. Semangat yang terus diberikan oleh ibunya membuat Imam menetapkan satu tekad dalam hati: ia ingin mandiri, berguna, dan suatu hari nanti bisa membuat keluarga bangga.
Awal Bertemu dengan MEC
Perjalanan Imam mengenal dunia pelatihan dimulai ketika ia diperkenalkan kepada LKP Mandiri Entrepreneur Center (MEC) oleh Ibu Yani. Saat itu, ia sedang berada di fase kebingungan – tidak tahu ingin melanjutkan ke mana dan butuh tempat yang bisa memberikan arah. Imam menginginkan ruang belajar yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga pada pembentukan mental dan kemandirian. Saat mendengar tentang MEC dan programnya yang cukup lengkap – mulai dari pembekalan karakter, pelatihan keterampilan, hingga pembinaan wirausaha – Imam merasa inilah tempat yang cocok untuknya.
Baginya, MEC bukan hanya tempat pelatihan, tetapi ruang untuk membangun ulang masa depan.
Sebelum memutuskan belajar di MEC, Imam lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sambil memikirkan masa depan. Dalam dirinya ada keinginan kuat untuk mandiri secara finansial dan memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk bekerja. Ia tidak ingin hidup hanya “mengalir”, tetapi ingin hidup yang terarah dan berarti, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya. Keputusan masuk ke MEC menjadi langkah penting untuk keluar dari ketidakpastian itu.
Pengalaman Belajar yang Mengubah Cara Pandang
Sejak hari pertama belajar, Imam sudah merasakan suasana positif di lingkungan MEC. Para mentor yang ramah, teman-teman yang solid, dan pola belajar yang tidak membosankan membuatnya cepat beradaptasi. Yang paling berkesan baginya bukan hanya materi pelajaran, tetapi pembentukan mental, kedisiplinan, dan nilai kehidupan yang selalu diselipkan dalam setiap aktivitas.
Imam belajar tentang kerja tim, tanggung jawab, dan bagaimana menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia kerja. Banyak momen kebersamaan yang masih melekat di ingatannya—mulai dari kegiatan praktik, kerja kelompok, hingga aktivitas sosial yang membuatnya merasa menjadi bagian dari komunitas yang suportif.
Dari sisi keterampilan, Imam mendalami bidang Teknik Komputer Jaringan. Meskipun nantinya ia bekerja di bidang yang berbeda, fondasi kedisiplinan, logika kerja, dan etos belajar yang ia dapatkan dari jurusan tersebut sangat membantu dalam kariernya.
Tumbuh Menjadi Pribadi yang Lebih Siap
Lulus dari MEC membawa banyak perubahan positif bagi Imam. Ia menjadi pribadi yang lebih percaya diri, berani mengambil keputusan, dan disiplin dalam menjalankan tugas. Cara pandangnya terhadap masa depan juga berubah – lebih realistis, namun tetap optimis. Kemampuan beradaptasi yang ia pelajari selama pelatihan menjadi modal penting ketika ia akhirnya masuk ke dunia kerja.
Berkarier di Dunia Pertambangan
Saat ini, Imam bekerja di PT Apex Mitra Prima, sebuah perusahaan yang bergerak di industri pertambangan. Meski bidangnya berbeda dengan jurusan yang ia tempuh di MEC, Imam tidak merasa kesulitan dalam beradaptasi. Justru ia melihat perbedaan bidang sebagai tantangan baru yang memperkaya pengalamannya.
Dunia tambang menuntut banyak hal: ketelitian, kedisiplinan, fisik dan mental yang kuat, serta kemampuan bekerja dalam tim. Semua nilai itu sudah dikenalkan sejak ia berada di MEC, sehingga ia bisa cepat menyesuaikan diri. Selain bekerja, Imam juga melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Berau dengan mengambil jurusan Manajemen, langkah yang ia ambil untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan profesionalnya.
Salah satu hal yang paling membanggakan bagi Imam adalah kemampuannya bertahan, tumbuh, dan dipercaya dalam lingkungan kerja yang cukup berat. Ia berhasil membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukan alasan untuk tidak berkembang.
Kemandirian finansial, kepercayaan dari lingkungan kerja, serta keberanian untuk terus belajar menjadi pencapaian besar dalam hidupnya.
Pesan untuk Teman-Teman yang Sedang Berjuang
Imam menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna: jangan pernah menyerah. Menurutnya, proses yang sedang dijalani saat ini – baik di MEC maupun dalam kehidupan -adalah investasi masa depan. Mungkin terasa berat, tetapi hasilnya akan sepadan. Ia mengajak setiap peserta untuk percaya pada diri sendiri, menikmati proses, dan terus berusaha.
Bagi Imam, MEC menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Di tempat itu ia tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga menemukan arah, mentalitas, dan jati diri. Ia berharap MEC terus berkembang dan bisa melahirkan lebih banyak generasi muda yang mandiri, berkarakter, dan siap menghadapi dunia kerja.
Kisah Imam menegaskan bahwa pemberdayaan bukan sekadar memberikan pelatihan, tetapi membangun manusia yang siap berdiri di atas kakinya sendiri. Dari bangku pelatihan hingga dunia pertambangan, nilai-nilai yang ditanamkan di MEC menjadi fondasi yang mengangkatnya pada titik hidup yang lebih kuat, lebih matang, dan lebih mandiri.
Dan seperti Imam, masih banyak anak muda lain yang membutuhkan ruang untuk tumbuh. Kisah ini menjadi pengingat bahwa ketika pendidikan karakter, keterampilan, dan mentalitas bekerja berjalan seiring, pemberdayaan tidak lagi sekadar konsep, tetapi menjadi kekuatan yang mengubah hidup.