Jakarta, mec.or.id – Mandiri Entrepreneur Center (MEC) Jakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia. Salah satu langkah nyatanya adalah dengan menggelar kegiatan pembinaan membaca Al-Qur’an metode Tilawati pada Jumat (25/9/2026). Kegiatan ini dirancang khusus untuk meningkatkan ketepatan peserta didik dalam membaca kitab suci, terutama dalam pengucapan dan penerapan makhorijul huruf yang benar.
Dalam pembinaan membaca Al-Qur’an MEC Jakarta kali ini, pengelola menghadirkan Ustadz Achmad Akbar sebagai pemateri utama. Beliau merupakan seorang praktisi Tilawati yang berpengalaman di wilayah Jakarta Timur. Kehadiran pemateri ahli ini memberikan warna baru dalam proses pembelajaran, sebab peserta didik tidak hanya mendengarkan teori, melainkan juga langsung mempraktikkan teknik membaca di depan pengajar.
Pola pembelajaran yang interaktif ini terbukti efektif. Peserta didik mendapatkan kesempatan emas untuk mengenali secara langsung bagian bacaan mana yang sudah tepat dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Atmosfer belajar yang suportif membuat para peserta sangat antusias mengikuti setiap tahapan pembinaan dari awal hingga selesai.
Memahami Makhorijul Huruf Melalui Praktik Langsung
Salah satu fokus utama dalam kegiatan pembinaan membaca Al-Qur’an MEC Jakarta ini adalah penguasaan makhorijul huruf. Makhorijul huruf merupakan pemahaman mengenai tempat-tempat keluarnya huruf abjad Arab saat membaca Al-Qur’an. Ketepatan dalam mengucapkan setiap huruf menjadi aspek mendasar yang sangat krusial. Pasalnya, sedikit saja kesalahan dalam pengucapan dapat mengubah arti dan makna dari ayat yang dibaca.
Oleh karena itu, metode yang diterapkan berfokus pada pendekatan aplikatif. Dalam sesi praktik, peserta didik diminta melafalkan beberapa huruf dan potongan ayat sesuai dengan petunjuk pemateri. Ketika ditemukan pengucapan yang belum tepat, Ustadz Achmad Akbar langsung memberikan pembetulan di tempat. Setelah itu, peserta didik diminta mengulanginya kembali hingga lafal yang diucapkan benar-benar pas sesuai kaidah tajwid.
Prosedur interaktif ini memastikan bahwa proses belajar tidak berhenti pada hafalan teori semata. Para peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang utuh, mulai dari mendengar contoh yang benar, mencoba melafalkan, menerima masukan, hingga berhasil memperbaiki bacaannya secara mandiri.
Metode Tilawati sebagai Sarana Evaluasi Peserta Didik
Penerapan metode Tilawati dalam pembinaan membaca Al-Qur’an MEC Jakarta juga berfungsi sebagai media evaluasi berkala. Kepala Program MEC Jakarta, Kang Ade, menegaskan bahwa pembinaan ini merupakan bagian penting dari peta jalan pendidikan karakter para santri dan peserta didik di lembaga tersebut.
“Pembinaan Tilawati menjadi salah satu momentum penting untuk menguatkan dan meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an. Melalui kegiatan ini, kita bisa menelaah bersama apa saja kekurangan dan kelebihan kemampuan diri peserta didik dalam proses belajar metode Tilawati,” ujar Kang Ade saat memberikan keterangan.
Menurut Kang Ade, proses pembelajaran ini sangat membantu peserta didik dalam memetakan kemampuan diri. Mereka bisa mengetahui batas pemahaman yang telah dicapai serta area yang masih memerlukan latihan ekstra. Dengan demikian, pembinaan tidak sekadar menjadi agenda rutin tanpa makna, melainkan sarana terukur untuk memantau perkembangan kompetensi setiap individu.
Selama masa pendidikan di MEC Jakarta, pembelajaran Al-Qur’an memang menjadi pilar utama pembinaan. Seluruh rangkaian prosesnya dijalankan secara terstruktur melalui pembiasaan harian, latihan terpandu, dan evaluasi berkelanjutan agar dampaknya terasa nyata dalam kehidupan peserta didik.
Mendorong Kebiasaan Belajar Al-Qur’an yang Berkelanjutan
Ilmu dan pengalaman yang didapatkan selama pembinaan membaca Al-Qur’an MEC Jakarta diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Seluruh peserta didik didorong untuk mengaplikasikan teknik pengucapan huruf dan kaidah membaca yang benar dalam aktivitas ibadah harian mereka.
Pembiasaan yang konsisten merupakan kunci utama dalam menjaga keberlanjutan proses belajar. Dengan terus mengulang latihan secara rutin di luar jam kelas, peserta didik akan semakin peka terhadap kesalahan bacaan sendiri dan mampu mengoreksinya secara bertahap. Hal ini melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab terhadap kualitas ibadah pribadi.
Secara keseluruhan, pembinaan Tilawati di MEC Jakarta berhasil menjadi ruang belajar komprehensif yang memadukan pemahaman teori, praktik langsung, dan evaluasi mendalam. Kegiatan positif ini secara konsisten mendukung pembentukan karakter peserta didik agar memiliki kebiasaan belajar Al-Qur’an yang terus berkembang sepanjang hayat.