Tidak ada perjalanan hidup yang mulus tanpa lika-liku. Itulah yang dialami oleh Herjuna Bintang Rizky Afiyono, alumni LKP Mandiri Entrepreneur Center (MEC) Angkatan 16 asal Semarang. Pemuda kelahiran Kendal, 10 September 2001 ini harus merasakan pahitnya kehilangan ayah di usia 12 tahun.
Sepi dan kehilangan itu menjadi guru yang mengajarkannya arti keteguhan hati. Sejak saat itu, ia tumbuh sebagai yatim bersama kakak laki-lakinya, Dari Kendal, kota kelahirannya, ia tumbuh menjadi pemuda yang belajar menata harapan di tengah badai, melangkah pelan namun pasti menuju masa depan yang lebih baik.
Setelah lulus, Herjuna memulai langkah hidupnya sebagai teknisi Wifi di Jogja. Hari-harinya dipenuhi jadwal pemasangan dan perbaikan jaringan, hingga pandemi COVID-19 datang dan menghentikan segalanya. Pekerjaan yang biasanya padat, mendadak hanya menyisakan empat hari kerja dalam sebulan.
Sunyi dan waktu luang yang panjang sempat membuatnya resah. Namun, di tengah sepinya aktivitas, ia menemukan kembali sahabat lamanya—menulis. Jari-jarinya kembali menari di atas keyboard, menuangkan cerita di blog pribadinya.
“Saat itu banyak waktu kosong. Saya kembali menekuni hobi lama: menulis di Blog”, kenang Herjuna. Siapa sangka, hobi sederhana itu justru membuka pintu menuju babak baru dalam perjalanan hidupnya.
Hingga suatu hari, secercah harapan datang dari sang pakde yang menawarkan beberapa pilihan tempat untuk melanjutkan pendidikan. Herjuna merenung cukup lama, mempertimbangkan jalan mana yang akan dipilihnya. Dalam hati kecilnya, ia ingin menemukan tempat yang bukan hanya memberi ilmu, tetapi juga arah hidup.
Pilihannya pun jatuh pada Mandiri Entrepreneur Center (MEC). Alasannya sederhana namun penuh keyakinan: programnya singkat namun padat, ada asrama yang membentuk kedisiplinan, serta kurikulum yang memadukan pendidikan formal setara D1 dengan pembelajaran wirausaha. “Di MEC ada keasramaan, ada entrepreneur, dan pendidikan setara kuliah D1. Itu yang bikin saya yakin,” ujar Herjuna.
Langkah pertama Herjuna di MEC terasa seperti memasuki dunia baru. Jadwal yang dimulai sejak pukul tiga dini hari hingga pukul sembilan malam sempat membuatnya terkejut. Hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan akademik di kelas, pembinaan keasramaan yang menanamkan kedisiplinan dan akhlak, serta pelatihan kewirausahaan yang mengasah mental bisnis.
Awalnya tidak mudah, apalagi bagi Herjuna yang sebelumnya bukan anak pondok. Namun, perlahan ia belajar mengatur waktu, memperdalam ilmu agama, dan berani berbicara di depan orang banyak. ‘Saya kaget di awal, tapi bersyukur. Semua rutinitas ini membentuk saya jadi lebih disiplin, lebih berani, dan lebih siap menghadapi dunia,’ ujarnya dengan mata berbinar, seakan mengenang setiap proses yang telah mengubah dirinya.
Titik balik hidup Herjuna datang dari sebuah eksperimen sederhana. Saat itu ia memberanikan diri mencoba praktik digital marketing dengan menjual bis beton milik salah satu dosennya, Pak Arief, melalui Facebook.
Dengan semangat dan rasa penasaran, ia membuat postingan, merespons chat pembeli, hingga melayani transaksi. Siapa sangka, notifikasi orderan berdatangan satu per satu, semakin lama semakin banyak.
Dalam waktu singkat, ia berhasil meraup keuntungan bersih sekitar satu juta rupiah. ‘Saya sampai tertegun,’ kenangnya. ‘Dulu saya harus bekerja keras sebulan penuh untuk mendapatkan gaji sebesar itu. Tapi kali ini, hanya dari rumah dan lewat internet, saya bisa mencapainya.’ Wajahnya berbinar, seakan mengingat momen pertama kali ia benar-benar merasakan manisnya hasil dari dunia digital.
Namun, jalan menuju sukses tidak selalu lurus. Herjuna pernah mengalami masa-masa sulit ketika modal yang ia kumpulkan habis tak bersisa, bahkan membuatnya harus berpuasa karena tak ada uang untuk makan. Hari-hari itu terasa berat, namun ia memilih untuk tidak menyerah.
Ia mengingat pelajaran yang didapat di MEC—bahwa setiap kegagalan adalah guru terbaik. Perlahan ia bangkit, memperbaiki strategi, dan mencoba lagi. ‘Saya belajar bahwa gagal itu bukan akhir,’ ucapnya lirih namun penuh keyakinan. “Setiap kerugian memberi saya pelajaran berharga yang membuat saya lebih hati-hati dan lebih tangguh”.
Kini, setelah lulus, Herjuna sudah menapaki jalan suksesnya sendiri. Ia bekerja sebagai Advertising Specialist di DeGarmen Indonesia, menjadi content writer di Promedia, menjalani freelance Meta Ads, hingga merambah dropship dan mikrostock. Pendapatannya pun beragam, tapi sudah bisa di atas UMR Surabaya per bulan, bahkan bisa tembus dua digit ketika ada event tertentu.
Herjuna tidak lupa menyampaikan pesan kepada adik-adik yang kini sedang menempuh pendidikan di MEC. “Manfaatkan waktu yang ada di MEC. Serap ilmu sebanyak mungkin. Dan jangan ambrukkan tiang agama. Untuk laki-laki, shalat berjamaah di masjid itu wajib, supaya kita punya pedoman hidup yang kuat,” pesannya penuh makna.
Meski perjalanannya di MEC begitu singkat, Herjuna mengaku sangat bersyukur pernah berada di sana. “Kalau tidak ada MEC, mungkin saya tidak akan pernah tahu luasnya dunia digital marketing. MEC benar-benar berdampak bagi hidup saya,” ujarnya.
Kisah Herjuna menjadi cermin bagaimana pendidikan yang tepat dapat mengubah arah hidup seorang pemuda. MEC tidak hanya memberinya ilmu, tetapi juga menanamkan mental, disiplin, dan keberanian untuk menghadapi dunia nyata.
Dari keterbatasan, Herjuna bangkit menjadi pribadi yang mandiri dan produktif. Perjalanannya mengingatkan kita bahwa pemberdayaan bukan sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga menciptakan ruang bagi anak muda untuk menemukan potensi terbaiknya.
Herjuna adalah bukti bahwa ketika diberi kesempatan, bimbingan, dan kepercayaan, seorang pemuda bisa menjelma menjadi agen perubahan—untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan lingkungannya