Tidak semua perjalanan menuju masa depan berjalan mulus. Ada yang penuh belokan, ada yang penuh perjuangan, namun setiap langkah selalu memberi arti. Begitulah cerita Triana Yunita Salim, gadis asal Madiun kelahiran 15 Juni 2002, yang tumbuh dari keluarga sederhana namun memiliki mimpi besar untuk mandiri dan berkarier di bidang keuangan.
Nita, panggilan akrabnya, dibesarkan oleh seorang ibu single parent yang harus menghidupi tiga anak seorang diri. Ayahnya meninggal ketika ia duduk di kelas 1 SD – momen yang mengubah banyak hal dalam hidup keluarga kecil itu. Meski hidup tidak selalu mudah, rumah mereka selalu dipenuhi dengan semangat, doa, dan dorongan untuk terus belajar. Sang ibu menjadi sosok paling kuat bagi Nita, tempatnya bercerita dan sumber motivasi paling besar untuk ia terus maju.
Awal Perjalanan Bertemu MEC
Nita mengenal LKP Mandiri Entrepreneur Center (MEC) bukan secara kebetulan. Sejak usia 10 tahun, ia sudah menjadi anak binaan Sanggar Genius. Dari sanalah informasi tentang peluang beasiswa MEC datang melalui koordinator yang membimbingnya. Saat itu, Nita memang sedang mencari kesempatan untuk melanjutkan pendidikan setara perguruan tinggi tanpa membebani ibunya secara finansial.
Ketika mengetahui bahwa MEC memberikan beasiswa penuh – mulai dari biaya pendidikan, asrama, makan, hingga fasilitas kampus – Nita merasa inilah jalur yang selama ini ia cari. Selain meringankan beban keluarga, ia juga melihat peluang besar untuk belajar keterampilan dan memperbaiki masa depannya.
Kondisi Sebelum Masuk MEC
Setelah lulus SMA, Nita langsung memutuskan bergabung dengan MEC. Namun kemandirian bukan hal baru baginya. Sejak SMA, ia sudah menjadi guru les privat untuk menambah uang jajan. Ia punya cita-cita yang sederhana namun kuat: ingin menempuh pendidikan setara S1 dan suatu hari bekerja di bidang keuangan. MEC menjadi jembatan pertama untuk mewujudkan impian itu.
Pengalaman Selama di MEC
Selama belajar di MEC, Nita merasa sangat terbantu oleh lingkungan yang mendukung. Para mentor menjadi sosok yang bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan menemani proses pendewasaan para peserta didik. Mulai dari akademik, spiritualitas, hingga kedisiplinan sehari-hari – semuanya dirasakan Nita sebagai pengalaman yang membentuk dirinya.
Teman-teman di asrama pun menjadi bagian penting. Saat ia merasa berat, selalu ada teman yang membantu dan memberi semangat. Suasana asrama yang nyaman juga membuatnya mudah untuk beristirahat, belajar, dan tumbuh bersama.
Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah pelajaran entrepreneurship. Awalnya Nita adalah pribadi yang pemalu, namun kegiatan entrepreneurship yang menuntut interaksi dengan masyarakat membuatnya berlatih percaya diri. Ia belajar bahwa kemampuan bersosialisasi adalah modal besar untuk menghadapi dunia kerja nanti.
Perubahan Setelah Lulus
Lulus dari MEC membawa banyak perubahan positif dalam diri Nita. Ia merasa menjadi pribadi yang lebih mandiri dan lebih berani menghadapi tantangan. Tinggal di asrama mengajarkannya cara mengelola ego, memahami orang lain, serta menyelesaikan masalah bersama.
Dari sisi keterampilan, ia merasakan peningkatan signifikan. Kemampuan komunikasi, basic life skill, dan penguasaan aplikasi perkantoran seperti Microsoft Excel, Word, dan PowerPoint menjadi lebih kuat. Ia juga mempelajari dasar akuntansi dan bahkan kemampuan membaca Al-Quran yang semakin baik.
Nita menyadari bahwa dirinya sekarang jauh lebih matang dibanding sebelum masuk MEC – baik dalam hal mental, karakter, maupun keterampilan.
Kini, Nita bekerja sebagai staf keuangan di Yatim Mandiri Cabang Mojokerto. Yang menarik, karier ini justru tercapai jauh lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan. Jika dulu ia berpikir baru bisa bekerja di keuangan setelah lulus kuliah, ternyata jalan itu terbuka begitu ia lulus dari MEC.
Selain bekerja, ia juga sedang menempuh pendidikan S1 Akuntansi di Universitas Terbuka. Baginya, bekerja sambil kuliah adalah langkah yang ia banggakan – bukti bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Meski merasa belum memiliki “prestasi besar”, bagi Nita pencapaian terpenting adalah bisa memenuhi impian-impian kecilnya: mengenyam pendidikan S1, membeli motor, dan menghidupi diri sendiri tanpa harus membebani ibunya. Dan yang paling membahagiakan adalah bekerja di bidang yang ia impikan sejak SMA: dunia keuangan.
Pesan untuk Adik-Adik di MEC
Nita memberi pesan hangat untuk peserta yang sedang belajar:
“Percayalah, apa yang kamu lakukan sekarang akan mengukir masa depanmu. Yang patah akan tumbuh, yang hilang akan terganti. Tetap berusaha, jangan menyerah. Kelak masa depanmu akan berterima kasih padamu.”
Nita menutup ceritanya dengan rasa syukur. Ia berterima kasih kepada MEC dan Yatim Mandiri karena telah menjadi tempat ia belajar, tumbuh, dan menemukan jati diri. Harapannya, MEC dan YM terus diberkahi dan mampu memandirikan lebih banyak anak-anak muda yatim dan dhuafa.
Kisah ini menjadi cermin bahwa ketika pendidikan, dukungan, dan kemauan berproses bertemu pada satu titik, masa depan dapat berubah menjadi lebih cerah dan bermakna – bukan hanya bagi satu individu, tetapi juga bagi mereka yang terinspirasi oleh keberaniannya.