Di balik kesuksesan sering tersimpan kisah perjuangan panjang. Begitu pula dengan perjalanan hidup Rizki Ahmad Darmawan, alumni Desain Grafis Angkatan 12 LKP Mandiri Entrepreneur Center (MEC) yang kini berkarier di dunia IT. Lahir dan besar di Pamulang, Tangerang Selatan, Ahmed, Nama Panggilannya, tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang sopir angkot, meninggal dunia saat Ahmed masih duduk di bangku kelas satu SD. Sejak itu, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga, bekerja sebagai buruh cuci demi menghidupi enam anaknya.
Meski hidup pas-pasan, Ahmed beruntung mendapat bantuan pendidikan dari sebuah yayasan hingga lulus SMK Multimedia. Di sanalah ia mulai menanamkan keyakinan: bahwa pendidikan bisa menjadi jalan untuk memperbaiki nasib. Namun setelah lulus, ia dihadapkan pada persimpangan – kuliah terasa mustahil karena biaya, sementara untuk bekerja ia belum punya arah yang jelas.
Awal Bertemu MEC di Titik Bingung
Selepas lulus SMA/SMK, banyak anak muda berada di persimpangan – begitu pula dengan Ahmed. Kuliah adalah harapan besar, namun biaya tidak memungkinkan. Untuk langsung bekerja pun, ia masih belum tahu harus memulai dari mana.
Dalam situasi itu, datang sebuah informasi dari Umi tempat ia mengaji. Umi menyampaikan bahwa ada program pelatihan di Mandiri Entrepreneur Center Surabaya yang membuka jurusan Design Grafis. Mendengar hal itu, Ahmed merasa inilah jalan yang bisa ia coba. Ia ingin berkembang, ingin punya harapan baru.
Dengan keberanian dan tekad, ia memutuskan merantau ke Surabaya – meninggalkan kampung halaman untuk menjemput masa depan.
Menjadi Santri Desain yang Belajar Banyak Hal Baru
Ahmed masuk MEC dengan semangat untuk memperbaiki hidup. Ia bertemu teman-teman dari berbagai daerah dengan latar belakang perjuangan masing-masing. Mereka bukan hanya belajar keahlian teknis, tapi juga memperkuat karakter dan akhlak.
Di MEC, Ahmed tak hanya belajar desain melalui CorelDraw, Photoshop, dan Adobe Illustrator. Ia juga belajar tentang kehidupan: kedisiplinan, tanggung jawab, dan pentingnya karakter. Pelatihan kewirausahaan menjadi pengalaman yang membekas. Ia masih ingat saat praktik berjualan di tengah panasnya Surabaya, sampai-sampai harus “membatalkan puasa Senin-Kamis” agar kuat berjuang di lapangan. “Lucu kalau diingat, tapi dari situ saya belajar arti kerja keras,” kenangnya.
Selama di MEC, ia merasakan lingkungan yang saling mendukung: mentor yang membimbing dan teman-teman yang saling menguatkan di tanah perantauan.
Perubahan yang Ia Rasakan Setelah Menjalani Proses
Enam bulan di MEC mengubah banyak hal. Ia pulang bukan hanya dengan keahlian, tapi dengan pola pikir baru – lebih fokus, percaya diri, dan tahu arah hidup.
Menata Karier, Melanjutkan Pendidikan
Setelah lulus dari MEC, Ahmed terus mengembangkan dirinya. Ia berhasil meniti karier di dunia IT sebagai Software Quality Assurance di sebuah perusahaan IT consulting. Pendapatannya per bulan sudah stabil, di atas UMR Jakarta.
Bukan hanya bekerja, Ahmed juga berhasil mewujudkan mimpinya untuk kuliah, hal yang dulu terasa berat bagi keluarga. Ia melanjutkan pendidikan S1 Teknik Informatika di Universitas Pamulang, dan kini sedang menempuh jenjang S2 di jurusan yang sama di Universitas Pamulang sebagai bentuk komitmennya untuk terus naik kelas dan mengembangkan kompetensi diri.
Kami di MEC melihat perjalanan ini sebagai bukti bahwa ketika seseorang diberi kesempatan dan mau bersungguh-sungguh, perubahan itu bisa terjadi.
Pesan Ahmed untuk Adik-Adik yang Sedang Berjuang
“Capek itu wajar. Tidak ada yang bisa menebak masa depan, tapi kita diminta untuk siap menghadapinya. Belajar, cari apa yang kamu suka, dan jalani dengan konsisten. Jangan pernah menyerah pada proses.”Kalimat sederhana, namun datang dari seseorang yang benar-benar menjalani perjuangan itu.
Ahmed menyampaikan bahwa pengalamannya di MEC memberi banyak bekal penting untuk memulai perjalanan kariernya. Ia berharap MEC dapat terus menjadi tempat bagi anak-anak muda untuk tumbuh menjadi pribadi yang berani bermimpi, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Penutup
Perjalanan hidup Rizki Ahmad Darmawan mengingatkan kita bahwa kesempatan akan menemukan mereka yang siap berjuang. MEC hanya menjadi bagian dari perjalanan panjangnya – selebihnya adalah hasil usaha, tekad, dan keteguhan hati Ahmed sendiri.
Dan kami percaya, perjalanannya masih jauh dari kata selesai. Masa depan masih menunggu kontribusi terbaik darinya. Semoga Sukses, Ahmed!