Surabaya, mec.or.id – Kemampuan berbicara di depan umum sangat penting bagi setiap orang. Namun, keterampilan ini tidak bisa berkembang hanya melalui teori. Setiap peserta didik membutuhkan ruang latihan secara langsung dan konsisten. Oleh karena itu, MEC Surabaya menerapkan program kultum harian. Kegiatan kultum media pembelajaran dakwah ini menjadi wadah efektif untuk melatih kemampuan public speaking para santri.
Kegiatan kultum berlangsung secara rutin setelah shalat Maghrib dan Isya. Seluruh santri, baik ikhwan maupun akhwat, mendapat kesempatan tampil secara bergantian. Sebelum berbicara di hadapan audiens, mereka wajib menyusun materi terlebih dahulu. Proses ini membantu santri menyusun gagasan secara terstruktur. Selain itu, mereka belajar menyampaikan pesan keagamaan secara fokus dan jelas.
Pihak lembaga melihat kultum media pembelajaran dakwah sebagai metode belajar berbasis praktik. Melalui program ini, peserta didik dapat mengasah keterampilan komunikasi publik secara langsung. Di samping itu, mereka belajar menyampaikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari secara percaya diri.
Latihan Konsisten Membangun Kepercayaan Diri
Kemampuan public speaking membutuhkan jam terbang yang cukup. Sebab, rasa percaya diri tidak muncul secara instan. Kesempatan tampil berkala menjadi pilar utama dalam proses pembinaan di MEC Surabaya. Melalui kegiatan harian ini, santri belajar mengelola rasa cemas, mengatur intonasi suara, dan menguasai panggung.
Pada tahap awal, banyak peserta didik menghadapi rasa takut saat berdiri di depan orang banyak. Tangan gemetar dan gugup menjadi hal biasa bagi pembicara pemula. Namun, pengelola meyakini bahwa latihan konsisten bisa mengatasi hambatan mental tersebut.
“Kami menyadari bahwa tidak semua santri langsung berani berbicara di depan publik. Karena itu, kami membangun budaya berani mencoba. Melalui latihan yang konsisten, kemampuan komunikasi mereka pasti berkembang pesat,” ujar Ustaz Hevny, Kepala Program MEC Surabaya.
Transisi Teks Menuju Penyampaian Natural
Program kultum media pembelajaran dakwah juga menjadi sarana belajar antarsantri. Materi yang disampaikan dapat menambah wawasan Islam. Selain itu, kegiatan ini membuka ruang diskusi yang positif di lingkungan pesantren.
Dalam pelaksanaannya, santri pemula masih boleh membaca teks. Pendekatan ini memberikan rasa aman bagi mereka yang baru belajar. Teks berfungsi sebagai panduan awal sebelum mereka menguasai materi secara utuh.
Selanjutnya, pembimbing mengarahkan santri untuk tampil lebih natural. Peserta didik harus memahami poin utama materi, bukan sekadar membaca tulisan. Langkah ini membentuk gaya bicara yang lebih komunikatif, lancar, dan menarik bagi pendengar.
Bekal Komunikasi untuk Dunia Kerja
Keterampilan berbicara terstruktur menjadi modal berharga saat santri memasuki dunia kerja. Sebab, perusahaan sangat membutuhkan individu yang mampu menyampaikan ide secara jernih. Oleh sebab itu, latihan komunikasi sejak dini memberikan dampak jangka panjang bagi karir mereka.
Melalui kebiasaan kultum media pembelajaran dakwah ini, MEC Surabaya memberikan pengalaman praktis yang nyata. Pembelajaran tidak hanya fokus pada materi ceramah semata. Lebih dari itu, program ini membangun disiplin, mental pantang menyerah, dan kesiapan karier.
Secara keseluruhan, kultum harian merupakan pilar penting dalam sistem pendidikan MEC Surabaya. Melalui pembiasaan rutin ini, peserta didik siap tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berakhlak mulia, dan mahir berkomunikasi di masyarakat.