Mec Surabaya,- Kisah Kemandirian Nita (22), alumni LKP Mandiri Entrepreneur Center (MEC) kelahiran Klaten, 4 Maret 2003, kini menjalani dua peran sekaligus. Selain menempuh pendidikan tinggi di STAINIM, ia juga bekerja sebagai host live di sebuah agensi dan menangani sejumlah brand nasional. Perjalanan tersebut ia mulai dari keputusan sederhana: mencari tempat belajar yang tidak berhenti pada teori, tetapi memberikan keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan.
Bagi Nita, keputusan itu bukan semata soal pilihan lembaga, melainkan langkah untuk membangun kemandirian. Ia tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai kerja keras sejak kecil. Di sisi lain, ia juga merupakan bagian dari keluarga besar binaan Yatim Mandiri sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), sehingga terbiasa melihat bahwa pendidikan dan ikhtiar harus berjalan bersama.
Setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bidang komputer, Nita menyadari satu hal: ia ingin memiliki kemampuan yang benar-benar bisa membawanya masuk ke dunia kerja, bukan hanya sekadar memahami materi di kelas.
Berangkat dari Keterbatasan, Membawa Tekad
Nita tidak menutupi bahwa kondisi ekonomi menjadi salah satu pertimbangan besar dalam menentukan langkah setelah lulus sekolah. Ia ingin terus belajar dan berkembang, namun ia juga memahami bahwa setiap pilihan membutuhkan perhitungan.
Dalam situasi tersebut, ia mulai mencari program pendidikan yang tidak hanya memberikan sertifikat, tetapi juga membangun keterampilan dan mental siap kerja. Ia ingin memiliki bekal yang jelas untuk menghadapi tantangan setelah lulus.
Keinginan itu mendorongnya untuk melihat berbagai peluang yang tersedia, termasuk program pendidikan nonformal yang fokus pada penguatan keterampilan dan pelatihan karakter.
Titik Balik: Mengenal MEC dari Lingkungan dan Media Sosial
Informasi tentang LKP Mandiri Entrepreneur Center (MEC) ia dapatkan dari lingkungan sekitar dan media sosial. Dari penelusuran itu, Nita melihat bahwa MEC menawarkan pendekatan yang berbeda: pembelajaran keterampilan, pelatihan karakter, serta pola pendidikan yang terstruktur melalui asrama.
Bagi Nita, hal tersebut menjadi pertimbangan penting. Ia tidak ingin belajar hanya dari teori, melainkan juga ingin ditempa melalui praktik dan rutinitas yang membentuk kebiasaan. “Alasan utama saya memilih MEC adalah karena tempat ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga praktik langsung serta pembentukan pola pikir mandiri yang siap kerja,” ujar Nita.
Keputusan untuk mengikuti program MEC menjadi langkah awal yang menurutnya cukup menantang. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, pola belajar baru, dan tuntutan kedisiplinan yang berbeda dibandingkan pengalaman sekolah sebelumnya.
Proses Selama di MEC : Belajar, Disiplin, dan Dibimbing
Nita menilai masa belajar di MEC sebagai proses yang membentuk banyak aspek dalam dirinya. Tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga kebiasaan dan karakter.
Selama mengikuti program, ia terbiasa menjalani rutinitas yang terstruktur. Aktivitas belajar tidak hanya berlangsung di kelas, tetapi juga diikuti latihan praktik, tugas-tugas penguatan keterampilan, serta pembiasaan disiplin yang diterapkan dalam kehidupan asrama.
Bagi Nita, tantangan terbesar di awal bukan pada materi, melainkan pada konsistensi. Ia belajar tepat waktu, menyelesaikan tanggung jawab, serta menjaga semangat belajar meskipun lelah.
Ia juga menyebut peran mentor dan pembimbing sebagai bagian penting dari proses tersebut. Menurutnya, suasana belajar yang dibangun di MEC membuat peserta didik lebih berani mencoba dan tidak takut salah, karena ada arahan dan evaluasi yang dilakukan secara bertahap.
“Di MEC saya merasa punya rumah kedua. Mentornya ramah, sabar, dan selalu mendukung,” kata Nita.
Kebersamaan yang Menjadi Penguat
Selain disiplin dan latihan keterampilan, Nita juga menyoroti nilai-nilai kebersamaan selama menempuh pendidikan. Ia merasa ikatan dengan teman-teman seperjuangan menjadi salah satu pengalaman yang sulit digantikan.
Menurutnya, banyak momen yang berkesan justru hadir dari proses sederhana: belajar bersama, saling menguatkan saat tugas menumpuk, hingga saling mengingatkan untuk tetap menjaga semangat. Pada titik ini, Nita memahami bahwa kesiapan kerja tidak hanya dibangun dari kemampuan teknis, tetapi juga dari kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan mental bertahan dalam proses.
Perubahan Karakter: Dari Malu Menjadi Lebih Berani
Setelah menyelesaikan program, Nita merasakan perubahan yang cukup jelas dalam dirinya. Ia menyebut salah satu perubahan terbesar adalah meningkatkan rasa percaya diri.
Jika sebelumnya ia cenderung ragu untuk tampil dan mengambil kesempatan, kini ia merasa lebih siap menghadapi situasi yang menuntut komunikasi dan keberanian. Ia juga mulai terbiasa menyusun rencana dan target pribadi, termasuk dalam pendidikan dan pekerjaan.
Perubahan lain yang ia rasakan adalah kemampuan mengatur waktu. Menurut Nita, pola pelatihan selama program pelatihannya untuk membagi prioritas, menjaga konsistensi, dan tetap bertanggung jawab.
Hasil Nyata: Kuliah Sambil Bekerja sebagai Host Live
Saat ini, Nita menempuh pendidikan tinggi di STAINIM, perguruan tinggi di bawah naungan Yatim Mandiri. Pada saat yang sama, ia juga bekerja sebagai pembawa acara langsung di sebuah agensi.
Dalam pekerjaannya, Nita menangani sejumlah merek nasional, termasuk Bumbu Bunda, Kokola, dan Planet Ban. Ia mengakui pekerjaan tersebut menjadi ruang belajar baru yang menuntut komunikasi, ketahanan mental, serta kemampuan membangun interaksi dengan audiens.
Nita menyampaikan bahwa penghasilan dari pekerjaannya ia gunakan untuk membiayai kuliah secara mandiri. Selain itu, ia juga mulai menabung dan menyisihkan sebagian pendapatan untuk kebutuhan pribadi.
“Versi diri saya sekarang jauh lebih siap menghadapi tantangan dibandingkan sebelumnya. Saya merasa lebih berani mengambil peluang dan mandiri secara finansial,” ujar Nita.
Bagi Nita, hasil tersebut tidak saya anggap sebagai pencapaian instan. Ia menyadari bahwa semua itu lahir dari proses panjang: belajar, dibimbing, serta melatih diri untuk disiplin dan konsisten.
MEC Tanggapan : Kemandirian Dibangun Lewat Proses
Pihak Mandiri Entrepreneur Center menyampaikan bahwa kisah Nita menjadi gambaran bagaimana peserta didik dapat berkembang ketika mendapatkan ruang belajar yang tidak hanya pelatihan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter.
“Kami berusaha menyiapkan peserta didik agar siap menghadapi dunia kerja melalui kombinasi pembelajaran keterampilan, pelatihan karakter, dan pendampingan.Proses ini membutuhkan kesungguhan dari peserta, dan hasilnya biasanya terlihat setelah mereka terjun langsung ke masyarakat,” ujar Ust. Hamim, Waka Kesiswaan MEC
Menurut MEC, pola pembelajaran yang memadukan latihan keterampilan dan pembiasaan disiplin membantu peserta didik lebih siap menghadapi tantangan, terutama ketika harus menjalani tanggung jawab besar seperti bekerja sambil kuliah.
Pesan untuk Peserta Didik: Jaga Konsistensi
Menutup ceritanya, Nita menitipkan pesan kepada peserta didik yang saat ini masih menjalani proses pendidikan di MEC. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan kesungguhan dalam belajar.
“Jangan mudah menyerah dan tetap konsisten dalam belajar. Manfaatkan setiap proses di MEC karena ilmu dan pengalaman di sina sangat berharga untuk masa depan kalian,” kata Nita.
Ia berharap peserta didik dapat menjalani program dengan serius dan tidak meremehkan hal-hal kecil seperti disiplin, tanggung jawab, dan ketekunan. Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan itulah yang nantinya menjadi bekal paling terasa ketika memasuki dunia kerja.
Mandiri Entrepreneur Center terus membuka kesempatan bagi generasi muda yang ingin mengembangkan keterampilan, membangun karakter, serta mempersiapkan diri untuk berkarya setelah lulus. Informasi program dan pendaftaran dapat diakses melalui website MEC di www.mec.or.id/ppdb
Jangan lupa baca kisah sukses alumni MEC yang menjadi Owner Brand Hijab Terkenal